Langsung ke konten utama

Gedung Baru Harapan Baru

Gedung Baru Harapan Baru

Gambar diambil dari Washilah.com

“semoga euforia ini menjadi pemicu untuk meningkatkan kualitas seorang mahasiswa dan alumni UIN Alauddin”

Para mahasiswa, guru besar, pejabat universitas dan pegawai/dosen boleh tersenyum bangga. Karena hiruk-pikuk persiapan penyambutan kedatangan Wakil Presiden H. M Jusuf Kalla bulan lalu, terbilang sukses di mata mereka. Tanpa membahas lebih jauh, yang pasti sambutan/orasi ilmiah Pak Jusuf Kalla mengobati rasa rindu mahasiswa UIN Alauddin akan sosok orang penting di Indonesia. Sebab, rupanya sudah lama Universitas tercinta ini tidak masuk dalam daftar kunjungan Presiden atau Wakil Presiden ketika salah satunya sedang berkunjung ke Sulawesi Selatan. 

Pagar, trotoar, jalanan dan yang lainnya didandani seindah mungkin. Umbul-umbul menari-nari ditiup angin. Termasuk sterilisasi gedung Auditorium oleh Pasukan Pengamanan Wakil Presiden. Sayangnya, hari itu seluruh kegiatan perkuliahan sengaja diliburkan, sehingga hanya beberapa mahasiswa yang hadir dalam acara pemberian gelar doktor kepada Pak Jusuf Kalla.

Gedung Baru
Belum begitu lama euforia kebahagiaan Universitas ini. Kini, dua gedung baru UIN Alauddin yaitu Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) dan gedung untuk dosen diresmikan oleh Bapak Menteri Agama RI Lukman Hakim Syaifuddin. Sebuah kebanggaan sebagai mahasiswa UIN Alauddin. Selain peresmian beberapa gedung baru, juga karena kenyataannya hanya butuh dua bulan terakhir saja, Universitas Islam terbesar di kawasan timur Indonesia ini didatangi beberapa tamu pejabat Negara. Mulai dari Menteri kabinet hingga wakil Presiden RI Jusuf Kalla, yang juga sekaligus mendapat gelar doktor HC di bidang Sosiologi Agama.

Peresmian gedung baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) ini sudah ditunggu-tunggu oleh dosen dan  mahasiswa UIN Alauddin sendiri. Sebab, pembangunan gedung baru FEBI telah dicanangkan jauh  tahun lalu. Dan baru mulai dikerjakan setahun belakangan ini. Meski penyelesaiannya tidak sesuai target yang telah ditetapkan antara pihak Kampus dan Kontraktor. Tetapi, kita perlu mengapresiasi segala pihak yang telah mewujudkan gedung baru FEBI yang menghabiskan anggaran 25 miliar dari APBN. Sungguh bukan nilai yang sedikit. 

Seperti yang pernah dilansir oleh Washilah bahwa gedung berlantai empat ini, terbagi menjadi beberapa ruangan: Lantai satu terdiri dari dua ruang kelas, ruang guru besar, Kasubbag, Musallah dan Dapur. Lantai dua terdiri dari Perpustakaan, Ruang Pimpinan, dan Laboratorium. Lantai tiga terdapat delapan ruang perkuliahan, ruangan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), Dewan Mahasiswa (Dema) dan Senat Mahasiswa (Sema). Dan yang terakhir lantai empat yang terdapat 13 ruangan perkuliahan.

Selain itu, setiap ruangan juga dipasangi pendingin udara dan yang mencolok adalah sistem keamanan dengan pemasangan CCTV di setiap sudut untuk memantau segala aktivitas perkuliahan di gedung itu. Tak berhenti sampai di situ, fasilitas lain berupa ruang serba guna dengan kapasitas hingga ratusan orang dapat digunakan untuk segala jenis kegiatan. Mulai dari pentas seni, Dzikri bersama, seminar dan banyak kegiatan lain.

Sementara itu, Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Musafir Pababari mengungkapkan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam sendiri memiliki 2700 mahasiswa, 57 dosen baik PNS maupun Non PNS, dan lima Prodi, yakni Ekonomi Islam, Manajemen, Ilmu Ekonomi, Akuntansi, dan Perbankan Syariah. Ia juga berharap, ke depan, proses belajar mengajar di setiap fakultas, khususnya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, bisa berjalan dengan lancar. "Semoga dengan peresmian gedung baru ini, segenap dosen lebih meningkatkan lagi kinerjanya. Dan mahasiswa bisa belajar dengan nyaman," harap Musafir. (Rakyatku.com)

Oleh karenanya, gedung baru FEBI yang tidak murah ini bisa jadi pemicu untuk meningkatkan kinerja pegawai/dosen dan meningkatkan kualitas mahasiswanya. Dengan sistem-sistem baru yang diterapkan diharapkan FEBI bisa bersaing dengan Fakultas lain baik yang ada di lingkup UIN Alauddin sendiri maupun yang berada di luar lingkup UIN Alauddin dalam segi peningkatan kualitas mahasiswa dan alumninya. 

“Gedung baru ini simbol saja. Hal yang tidak kalah penting adalah isinya. PTKIN harus bisa menampilkan jati dirinya melalui pemikiran dan hasil-hasil penelitian sehingga keilmuan terus berkembang. Desain ruangan harus dapat membangkitkan dan menginspirasi. Pengajar adalah jantung lembaga pendidikan,” tutur Menteri Agama RI.

Sisi lain dari kabar gembira ini, justru menjelma bagai bumerang yang siap menghancurkan citra gedung baru ini. Perlu kesadaran yang tinggi bagi setiap pihak, baik mahasiswa maupun pegawai/dosen dan seluruh yang bekerja di FEBI untuk tetap menjaga gedung baru ini dari ancaman-ancaman kerusakan yang kadang di sengaja oleh oknum-oknum tertentu demi kepentingan tertentu. Sebagai mahasiswa UIN Alauddin saya mengajak bekerja sama kepada seluruh pihak untuk sama-sama menjaga citra FEBI dan merawat gedung baru FEBI ini. Sebab, biaya dari pembangunan gedung mewah ini juga bersumber dari uang rakyat. Maka betapa menistanya kita sebagai orang yang terdidik dan menyandang status mahasiswa jika tangan-tangan jahil kita melukai gedung baru kita ini. 





Tentang penulis.
Nama Adhe Junaedi Sholat, kelahiran Mamuju 15 Juni 1995. Masih semester 10 di Universitas Islam Alauddin Makassar. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dosen Killer memang Menyebalkan. Inilah Dosen yang Mendapat Julukan Dosen Killer di Jurusan saya

Foto oleh Medium.com Sebagai siswa saya sebenarnya tidak percaya istilah dosen killer atau istilah lain. Menurut saya dosen sama saja. Dosen ya dosen, tugasnya mengajar/membimbing siswa. Ada pun bagaimana caranya tergantung dari masing-masing dosen. Siswa tidak boleh cengeng lebih-lebih menyimpan dendam. Hu. Sama seperti halnya kalian yang punya cara sendiri membujuk pacar ketika baru saja bertengkar. Dosen juga seperti itu, punya cara sendiri menghadapi siswanya. Ada yang menurut siswa baik, pun ada juga mengatakan killer (jenis dosen paling tidak disukai banyak siswa). Biasanya dosen yang killer ini paling sering diceritai oleh siswa dengan sinis, mulai dari cara jalannya, cara berpenampilannya, apa kendaraannya, juga bagaimana keharmonisan keluarganya, macam-macam. Sementara dosen yang siswa anggap killer mendominasi populasi dosen di fakultas-fakultas universitas. Nah loh. Seperti alinea pertama tulisan ini, saya sudah mengatakan bahwa saya tidak percaya istilah ...

Putri Desa

Cerpen oleh: Adhe Junaedi Sholat “Gadis cantik yang konon bukan wanita biasa itu bernama Siti” Sebuah kisah tentang seorang pemuda miskin. Sepeninggal orang tuanya, ia hidup sebatang kara di sebuah gubuk tempat ia menunggui kebun. Di usianya yang sudah cukup matang, pemuda itu belum juga menikah sebab dalam impiannya, ia ingin menikah dengan seorang wanita yang parasnya secantik bidadari seperti yang selalu ia dengar dalam dongeng yang diceritakan almarhum Ibunya. Pagi yang cerah, pemuda itu pergi ke kebun untuk melihat beberapa tanaman bunga yang ia tanam tempo hari.  Terutama tanaman bunga Krisan yang memang selalu ia jaga. Sebab, bunga itu tumbuh di dekat sebuah sumur dalam area kebun miliknya. Bunga Krisan tersebut tidak pernah ada yang memetik kecuali daun dan bunganya gugur sendiri di makan waktu. Sore menjelang, langit tampak mendung.setelah bekerja seharian di kebun, pemuda itu berniat kembali ke gubuknya dan beristirahat, ia melihat kembali bunga Krisan untuk ...

Menakar Keterbukaan Media Sebagai Penyedia Informasi di Masyarakat.

OPINI-Adhe Junaedi Sholat “Media harus dievaluasi agar tidak sekedar basa basi. Saatnya media terbuka dan transparan". Akhir-akhir ini masyarakat diresahkan oleh penyebaran informasi yang tersebar luas di Internet, yang jika dicermati hanya sekadar basa basi tanpa didasari oleh fakta yang ada. Penyebaran informasi di negeri ini lambat laun mengalami fase kepudaran. Desain informasi yang syarat akan makna dan kebenaran, kini syarat akan kepalsuan yang didasarkan akan kepentingan yang tiada batas. Para penyebar informasi palsu tak mengenal ruang. Ujaran fitnah dan isu SARA kian hari semakin membludak dan mengadu domba masyarakat. Oknum media sosial memanfaatkan situasi yang ada, yang sarat dengan perseteruan karena racun benci dan dendam, menambah kekacauan karena politisasi isu SARA. Jika ini terus dibiarkan dan menganggap masalah ini adalah hal yang biasa-biasa saja, maka nasib bangsa ini semakin mengerdil dan tidak mencerminkan bangsa yang menjunjung nilai-nilai keadilan,...